Emas (XAU/USD) Tertahan di Resistance Kritis $4.900/oz, Sinyal Bearish Mulai Muncul

avatar
· Views 447

Harga emas dunia (XAU/USD) sempat menguat hingga mendekati $4.850 per ons setelah tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran serta turunnya harga minyak global. Namun, reli tersebut tertahan dan harga kembali melemah ke area $4.780, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap rapuhnya kesepakatan damai tersebut.

Meski demikian, pelemahan indeks dolar AS (DXY) serta ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga pada paruh kedua tahun 2026 masih memberikan dukungan terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Secara teknikal, emas saat ini menghadapi tantangan besar di area resistance $4.900, yang bertepatan dengan posisi 200 SMA.


Volatilitas Tinggi Setelah Gencatan Senjata AS–Iran

Pergerakan harga emas pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan volatilitas tinggi setelah perubahan mendadak pada dinamika geopolitik global memaksa pelaku pasar menyesuaikan kembali premi risiko mereka.

Harga emas sempat menyentuh level intraday di sekitar $4.850 per ons setelah muncul kabar tercapainya gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran.

Namun seiring berjalannya waktu, harga emas terkoreksi kembali ke area $4.780, karena pasar masih mempertimbangkan risiko pelanggaran kesepakatan tersebut.
Emas (XAU/USD) Tertahan di Resistance Kritis $4.900/oz, Sinyal Bearish Mulai Muncul

Selama beberapa minggu terakhir, premi risiko akibat konflik geopolitik menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan logam mulia. Kenaikan harga minyak sebelumnya meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan memberi tekanan terhadap emas.

Namun setelah pengumuman pembukaan kembali Selat Hormuz, harga minyak turun kembali di bawah $100 per barel, sehingga mengurangi permintaan aset safe haven yang mendominasi sepanjang kuartal pertama 2026. Kondisi ini justru membantu mendorong reli emas.


Faktor Utama Penggerak Harga Emas Hari Ini

1. Gencatan Senjata AS–Iran

Ultimatum 48 jam yang sebelumnya ditetapkan oleh pemerintah Amerika Serikat berakhir dengan terobosan diplomatik. Hal ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik regional yang lebih luas.

Biasanya, emas menjadi aset pertama yang naik saat ketidakpastian meningkat, dan juga menjadi aset pertama yang dijual kembali saat risiko mulai mereda.


2. Pelemahan Dolar AS dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

Meski ketegangan geopolitik mereda, indeks dolar AS tetap berada dalam tekanan. DXY tercatat melemah sekitar 0,8% terhadap euro.

Pasar juga semakin memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga agresif pada paruh kedua 2026, seiring proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi global dari World Bank.

Penurunan imbal hasil obligasi akibat ekspektasi penurunan suku bunga menjadi faktor pendukung kuat bagi emas.


3. Efek “Turbo-Gold” dari Kenaikan Silver

Harga perak (silver) mencatat kenaikan signifikan hampir 7% hingga mencapai $77 per ons.

Pergerakan agresif perak sering menjadi sinyal kuat adanya optimisme bullish yang lebih luas di sektor logam mulia. Ini menunjukkan bahwa meskipun emas sedang mengalami fase konsolidasi, tren jangka menengah masih berpotensi tetap bullish.


Risiko yang Perlu Diperhatikan ke Depan

Meskipun gencatan senjata memberikan harapan stabilitas global, kondisi ini juga menciptakan risiko dua arah bagi investor emas.

1. Risiko Rapuhnya Gencatan Senjata

Kesepakatan yang berlaku selama dua minggu ini masih bersifat sementara. Jika terjadi pelanggaran atau kegagalan mencapai kesepakatan jangka panjang, harga emas berpotensi turun menuju area support $4.500 per ons atau bahkan lebih rendah.


2. Permintaan Bank Sentral

Menurut proyeksi dari J.P. Morgan dan UBS, pembelian emas oleh bank sentral diperkirakan tetap kuat dengan rata-rata sekitar 585 ton per kuartal.

Namun jika harga emas yang tinggi mulai mengurangi minat pembelian sektor resmi, maka salah satu pilar utama pendukung harga emas dapat melemah.


3. Dinamika Inflasi Global

Jika stabilitas harga energi berlanjut setelah pembukaan Selat Hormuz, inflasi global berpotensi turun lebih cepat dari perkiraan.

Kondisi ini bisa membuka ruang bagi Federal Reserve untuk mempercepat pemangkasan suku bunga, yang justru dapat kembali mendukung kenaikan harga emas menuju level psikologis $5.000 per ons.

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest