Seberapa Kuat Ekonomi RI Hadapi Gejolak Global Dibanding Negara Selevel?

avatar
· Views 881

Seberapa Kuat Ekonomi RI Hadapi Gejolak Global Dibanding Negara Selevel?

Ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah kembali menguji daya tahan ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia. Lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga tekanan pada fiskal menjadi tantangan utama yang harus dihadapi.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia dinilai masih cukup mampu bertahan. Namun, ketahanan ini belum sepenuhnya solid dan tetap menyimpan sejumlah risiko.


Fundamental Ekonomi Masih Terjaga

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Muhammad Faisal, menilai kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif stabil. Hal ini terlihat dari beberapa indikator utama seperti pertumbuhan ekonomi, konsumsi domestik, investasi, hingga kinerja perdagangan.

Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat menjadi penopang utama, ditambah neraca perdagangan yang masih mencatat surplus di tengah tekanan global.


Risiko Mulai Terlihat dari Sisi Fiskal

Meski demikian, Faisal mengingatkan adanya potensi kerentanan dari sisi fiskal. Defisit APBN disebut mengalami pelebaran cukup cepat dalam waktu singkat.

Hingga Maret 2026, defisit anggaran telah mencapai sekitar Rp240 triliun. Kondisi ini menunjukkan tekanan pada belanja pemerintah yang perlu diwaspadai ke depan.


Posisi RI di Tengah Negara Selevel

Jika dibandingkan dengan negara berkembang lain, posisi Indonesia dinilai berada di tengah, tidak paling kuat, tetapi juga tidak paling rentan.

Dari sisi energi, Indonesia masih berstatus sebagai net importir minyak, sehingga tetap terdampak kenaikan harga global. Namun, ketergantungan terhadap pasokan minyak dari kawasan Teluk relatif lebih rendah dibandingkan negara seperti Malaysia dan Filipina.


Artinya, risiko gangguan pasokan energi bagi Indonesia cenderung lebih terkendali, meski dampak kenaikan harga minyak dunia tetap terasa, terutama terhadap inflasi dan subsidi energi.


Ketahanan Dinilai “Semu”

Pandangan berbeda disampaikan Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara. Ia menilai ketahanan ekonomi Indonesia saat ini bersifat semu.

Menurutnya, pemerintah menahan kenaikan harga BBM dan LPG untuk menjaga daya beli masyarakat, namun langkah ini berdampak pada pelebaran defisit APBN.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak krisis global belum sepenuhnya terasa di sektor riil, tetapi berpotensi muncul dalam waktu dekat.


Tekanan Tambahan: Rupiah & Daya Beli

Selain inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor risiko yang perlu diperhatikan. Di sisi lain, stimulus fiskal yang ada dinilai belum cukup kuat untuk menopang daya beli masyarakat secara optimal.


Kebijakan Pemerintah: Tepat, Tapi Belum Maksimal

Secara kebijakan, langkah pemerintah dinilai sudah berada di jalur yang tepat, seperti menjaga defisit APBN di bawah 3 persen dari PDB untuk mempertahankan kepercayaan investor.

Kebijakan menahan kenaikan harga BBM juga dianggap penting untuk menjaga konsumsi domestik dan stabilitas sosial.

Namun, pemangkasan anggaran yang terlalu dalam, terutama di daerah dikhawatirkan bisa menghambat pergerakan ekonomi di tingkat regional.

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 2
avatar
woahh
avatar
💪

-THE END-

  • tradingContest