
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menyampaikan bahwa konflik dengan Iran sudah mendekati akhir, meskipun operasi militer masih berlangsung dan ketegangan belum sepenuhnya mereda. Dalam pidato nasional yang disiarkan langsung dari Gedung Putih, Trump mengatakan bahwa perang yang awalnya diperkirakan hanya berlangsung beberapa hari kini diprediksi akan selesai dalam waktu sekitar dua hingga tiga minggu ke depan.
“Kami akan menyelesaikan ini, dan kami akan menyelesaikannya dengan sangat cepat,” ujar Trump dalam pernyataannya.
Serangan Masih Terjadi, Harga Minyak Naik
Di tengah pernyataan tersebut, Israel dilaporkan tetap melancarkan serangan ke Teheran. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada sinyal de-eskalasi, situasi di lapangan masih jauh dari stabil. Pasar pun merespons negatif. Harga minyak dunia melonjak hingga mendekati US$100 per barel, bahkan sempat naik lebih tinggi selama pidato berlangsung. Kenaikan ini turut mendorong harga bahan bakar di AS, yang kini rata-rata mencapai US$4,06 per galon, tertinggi sejak konflik dimulai.
Operasi Militer dan Latar Belakang Konflik
Perang antara AS dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026 melalui serangan besar-besaran ke berbagai wilayah Iran. Salah satu serangan tersebut bahkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Operasi militer ini dikenal dengan nama “Operation Epic Fury”, yang diklaim bertujuan menghancurkan program nuklir dan rudal Iran.
Dukungan dan Kritik dari Politisi AS
Sejumlah politisi AS memberikan tanggapan beragam terhadap pidato Trump. Dari Partai Republik, Lindsey Graham memuji pidato tersebut sebagai penjelasan yang kuat dan meyakinkan terkait alasan AS terlibat dalam perang. Ia juga menyebut bahwa AS kini hanya tinggal beberapa minggu lagi untuk mencapai target militernya.
Senada, Ted Cruz menilai operasi militer ini sebagai langkah penting untuk menghentikan ancaman nuklir Iran dan meningkatkan keamanan jangka panjang Amerika. Namun, kritik datang dari kubu Demokrat. Mark Warner menilai pidato Trump tidak menjawab pertanyaan mendasar terkait arah dan strategi perang. Ia juga menyoroti dampak ekonomi yang sudah mulai terasa, seperti kenaikan harga energi, pupuk, hingga bahan baku industri.
Risiko Ekonomi dan Ketidakpastian Masih Tinggi
Warner juga mengingatkan bahwa dampak perang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga ekonomi jangka panjang. Kenaikan harga energi dan terganggunya rantai pasok global berpotensi memberi tekanan berkelanjutan pada perekonomian.
Selain itu, hingga saat ini belum ada kejelasan terkait pengamanan material nuklir Iran maupun pembukaan kembali jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Kesimpulan
Meski Trump optimistis perang akan segera berakhir, realitas di lapangan menunjukkan konflik masih berlangsung dan penuh ketidakpastian. Pasar global pun tetap sensitif terhadap setiap perkembangan, terutama terkait harga minyak dan stabilitas geopolitik.
Bagi pelaku pasar dan trader, kondisi ini berarti volatilitas masih akan tinggi dalam waktu dekat—baik di pasar energi, mata uang, maupun aset safe haven seperti emas.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Leave Your Message Now