
Di tengah momen Ramadan dan Lebaran, inflasi Indonesia justru menunjukkan perlambatan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Maret 2026 sebesar 3,48% (yoy), lebih rendah dibanding Februari yang sempat mencapai 4,76% (yoy).
Artinya, tekanan harga masih ada, tapi mulai lebih terkendali.
Sektor Perumahan Jadi Penyumbang Utama
Menurut Deputi BPS, Ateng Hartono, inflasi tahunan paling besar datang dari sektor:
- perumahan
- listrik
- bahan bakar rumah tangga
Kelompok ini mencatat inflasi hingga 7,24%, dengan kontribusi terbesar berasal dari tarif listrik.
Harga Emas Ikut Dorong Inflasi
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat kenaikan tinggi, mencapai 15,32%. Penyebab utamanya adalah lonjakan harga emas perhiasan, yang ikut mendorong inflasi secara keseluruhan.
Inflasi Bulanan Ikut Melambat
Secara bulanan (mtm), inflasi Maret tercatat 0,41%, turun dari Februari yang sebesar 0,68%. Namun, tekanan tetap terasa dari sektor kebutuhan pokok, terutama:
- ikan segar
- daging ayam
- beras
- telur ayam
- cabai rawit
- minyak goreng
- daging sapi
Selain itu, bensin juga ikut memberi kontribusi terhadap kenaikan harga.
Transportasi Ikut Naik
Kenaikan juga terlihat di sektor transportasi, dengan inflasi sekitar 0,41%. Salah satu penyumbangnya adalah tarif angkutan kota, yang ikut naik seiring meningkatnya mobilitas saat Ramadan dan menjelang Lebaran.
Kesimpulan
- Inflasi turun ke 3,48% (yoy)
- Tekanan terbesar dari listrik & energi
- Harga pangan tetap jadi faktor utama
- Ramadan & Lebaran tetap dorong konsumsi
👉 Meski inflasi melambat, masyarakat tetap merasakan kenaikan harga—terutama di kebutuhan sehari-hari.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

-THE END-