Minyak Tembus $100, Fokus Beralih ke Inflasi AS dan Arah Suku Bunga Global

avatar
ยท Views 1,025
Forex

Pasar Global Bergejolak

Update Pasar & Insight Trading — Followme
Pasar global kembali bergerak volatil setelah harga minyak melonjak tajam di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Lonjakan komoditas energi, pergeseran ekspektasi suku bunga, serta perkembangan geopolitik kini menjadi faktor utama yang diperhatikan trader di berbagai kelas aset.

๐Ÿ›ข๏ธ Minyak Tembus $100, Pasar Khawatir Inflasi Kembali Naik
Harga minyak dunia melonjak dan kembali menembus US$100 per barel akibat meningkatnya konflik AS-Iran. Kenaikan ini langsung memicu kekhawatiran bahwa inflasi global bisa kembali meningkat.

Lonjakan energi tersebut mulai memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter. Berdasarkan analisis CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada Juni 2026, berbeda dari ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan pemangkasan 25 basis poin sebelum konflik terjadi.

Situasi ini mengingatkan pada pola yang terjadi saat Perang Rusia-Ukraina pada 2022. Saat itu, harga minyak melonjak hingga sekitar US$130 per barel pada awal Maret 2022, kemudian tetap berada di level tinggi selama sekitar empat bulan sebelum akhirnya mulai normal kembali pada paruh kedua tahun tersebut.
Jika pola serupa terjadi, pasar komoditas dan saham global berpotensi menghadapi periode volatilitas yang lebih panjang.

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Rupiah Stabil, Tapi Tekanan Domestik Masih Ada

Nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp16.851 per dolar AS pada Rabu (11/3) pagi, menguat tipis sekitar 0,07%.
Pergerakan ini terjadi ketika indeks dolar melemah dari level tertinggi tiga bulan setelah muncul harapan de-eskalasi konflik Timur Tengah.
Namun beberapa faktor domestik masih membebani sentimen, antara lain:
  • Cadangan devisa turun ke level terendah tiga bulan pada Februari
  • Kepercayaan konsumen melemah setelah mencapai puncak satu tahun pada Januari
  • Inflasi meningkat ke 4,76% YoY, mendekati level tertinggi tiga tahun
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan inflasi masih dapat dikelola dalam periode 2026–2027. Bank Sentral tetap menjaga stabilitas rupiah sebagai prioritas, meskipun masih membuka ruang pelonggaran kebijakan setelah pemangkasan suku bunga total 150 bps sejak September 2024.

๐Ÿ‡ช๐Ÿ‡บ EUR/USD Stabil, Sentimen Pasar Sedikit Membaik

Pasangan EUR/USD bertahan di sekitar 1.1620 pada sesi Asia di Rabu pagi setelah sempat menyentuh level terendah empat bulan di 1.1507. Pemulihan euro terjadi karena permintaan terhadap aset safe-haven mulai melemah.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer di Timur Tengah “hampir selesai”, komentar yang membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar mengenai konflik berkepanjangan. Namun, ketidakpastian masih tinggi. Serangan baru dilaporkan dilakukan oleh Israel Defense Forces terhadap target di Iran dan Lebanon, meningkatkan risiko bahwa konflik dapat kembali meningkat sewaktu-waktu.

Sementara itu, Presiden European Central Bank, Christine Lagarde, menyoroti bahwa tingkat ketidakpastian dan volatilitas pasar saat ini sangat tinggi, sehingga bank sentral harus siap mengambil langkah untuk mengendalikan inflasi.

Minyak Tembus $100, Fokus Beralih ke Inflasi AS dan Arah Suku Bunga Global

Cek Chart EUR/USD

Emas Stabil di $5.190, Trader Menunggu Data CPI AS

Harga emas bertahan di sekitar $5.190 - $5.200 per ons setelah mengalami volatilitas dalam beberapa sesi terakhir.
Stabilnya harga emas terjadi setelah komentar Presiden AS yang memberi sinyal potensi meredanya konflik di Timur Tengah. Meski begitu, risiko geopolitik tetap membayangi pasar.
Iran memperingatkan bahwa jika serangan terus berlanjut, mereka dapat memblokir ekspor minyak regional, termasuk jalur penting melalui Selat Hormuz. Ancaman tersebut berpotensi mendorong permintaan terhadap aset safe-haven seperti emas.
Fokus pasar kini tertuju pada rilis data inflasi CPI AS Februari, yang diperkirakan:
  • CPI utama: 2,4% YoY
  • CPI inti: 2,5% YoY
Jika data inflasi lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS berpotensi menguat dan menekan harga komoditas dalam jangka pendek.

 
GBP/USD Rebound, Didukung Ekspektasi Suku Bunga Inggris

Pasangan GBP/USD naik ke sekitar 1.3430 setelah menemukan pembeli baru di sesi Asia. Sentimen positif muncul karena pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan Bank of England. Prediksi pemangkasan suku bunga kini berubah menjadi peluang sekitar 70% kenaikan suku bunga pada akhir tahun.

Meski demikian, potensi eskalasi konflik di Timur Tengah dan risiko gangguan jalur energi global masih dapat memperkuat dolar AS dan membatasi kenaikan GBP/USD.

๐Ÿ‡ฆ๐Ÿ‡บ AUD Menguat, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga

Dolar Australia menguat ke sekitar $0.713, level tertinggi sejak Mei 2022, didorong oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia.
Pejabat bank sentral menyatakan bahwa lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Pasar kini memperkirakan:
  • 65% peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan 17 Maret
  • Kenaikan 25 bps pada Mei hampir sepenuhnya terharga di pasar
  • Total pengetatan sekitar 58 bps sepanjang tahun
Inflasi Australia saat ini berada di 3,8%, dengan risiko naik di atas 4% seiring kenaikan harga energi.

Apa Artinya untuk Trader?
1.  Energi dan inflasi kembali menjadi driver utama pasar
Lonjakan minyak dapat memicu revisi ekspektasi suku bunga global.

2. Data CPI AS menjadi katalis besar berikutnya
Angka inflasi yang lebih tinggi dapat menguatkan USD dan meningkatkan volatilitas di forex serta komoditas.

3.  Geopolitik masih menjadi faktor risiko utama
Setiap perkembangan konflik Timur Tengah dapat memicu pergerakan tajam pada minyak, emas, dan dolar.

4. Mata uang komoditas berpotensi lebih volatil
AUD dan mata uang terkait energi bisa bergerak cepat mengikuti perubahan harga minyak.

Secara keseluruhan, pasar saat ini berada dalam fase headline-driven volatility, di mana berita geopolitik dan data inflasi dapat dengan cepat mengubah arah sentimen global. Trader perlu memperhatikan kombinasi faktor energi, kebijakan moneter, dan perkembangan konflik Timur Tengah dalam menentukan strategi berikutnya.

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 17
avatar
Kalau minyak sudah tembus $100 lagi, memang wajar market mulai khawatir inflasi naik lagi..
avatar
deg deg an BBM langka sih..
avatar
Sebelum konflik orang sudah pricing rate cut, sekarang malah kemungkinan hold. Ini bisa bikin USD tetap kuat
avatar
Rupiah menguat dikit lah seengaknya
avatar
Iya ya hebat juga
avatar
Turun Lagi ini mah
avatar
Ahhh Berita yang sangat membagongkan
avatar
๐Ÿ˜ฑ
avatar
semoga bnran cpt selesai dah
avatar
skrg teknikal jg serba salah, gara2 fundamentalnya ga menentu gini
avatar
market lg volatil bgt
avatar
๐Ÿค”๐Ÿค”
avatar
๐Ÿ‘๐Ÿ‘
avatar
Yang bikin market sulit sekarang itu karena geopolitik berubah cepat. Hari ini ada harapan damai, besok bisa ada serangan lagi ๐Ÿ˜ซ
avatar
Emas kelihatannya masih ditahan dua faktor: geopolitik sama suku bunga. Kalau CPI AS tinggi, kemungkinan emas bisa kena tekanan juga
avatar
Waduhh turun lg dong
avatar
EURUSD bisa naik dikit mungkin krn pasar mulai berharap konflik tidak terlalu lama... tpi kalo eskalasi lagi, biasanya USD langsung balik kuat

-THE END-

  • tradingContest