
Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Jumat pagi (13/2). Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp16.848 per dolar AS, turun sekitar 20 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang masih mendominasi pasar global. Mayoritas mata uang Asia bergerak di zona merah. Yen Jepang dan won Korea Selatan sama-sama terkoreksi cukup dalam, disusul ringgit Malaysia dan baht Thailand. Yuan China serta dolar Singapura juga melemah terhadap dolar AS.
Tren serupa terlihat pada mata uang negara maju. Poundsterling Inggris dan euro Eropa terkoreksi tipis, sementara dolar Australia juga mencatat pelemahan terhadap greenback.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah berpotensi bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah di tengah sentimen risk off yang kembali menguat. Menurutnya, tekanan berasal dari faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, pasar saham Asia dibuka negatif setelah Wall Street mengalami penurunan tajam. Kondisi ini mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Sementara dari dalam negeri, isu seputar evaluasi MSCI dan penurunan outlook peringkat utang Indonesia masih membebani sentimen. Selain itu, pasar juga mencermati isu independensi Bank Indonesia serta dinamika defisit anggaran (APBN).
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS. Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global serta respons pasar terhadap isu-isu domestik yang masih berkembang.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Leave Your Message Now