Bye Dolar, Transaksi Mata Uang Lokal RI dengan Negara Mitra Tembus US$25,66 Miliar Sepanjang 2025

avatar
· Views 422

Bye Dolar, Transaksi Mata Uang Lokal RI dengan Negara Mitra Tembus US$25,66 Miliar Sepanjang 2025

Upaya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat mulai menunjukkan hasil nyata. Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi Local Currency Transaction (LCT) atau transaksi menggunakan mata uang lokal dengan negara mitra mencapai US$25,66 miliar sepanjang Januari–Desember 2025.


Angka tersebut melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada di kisaran US$12,5 miliar. Peningkatan signifikan ini menandakan semakin luasnya penggunaan mata uang non-dolar dalam aktivitas perdagangan dan keuangan internasional Indonesia. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan lonjakan transaksi LCT merupakan bagian dari strategi jangka menengah bank sentral untuk memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional, khususnya di tengah volatilitas global dan penguatan dolar AS.


“Di akhir Desember 2025, LCT kita mencapai US$25,66 miliar. Ini meningkat sangat tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya sekitar US$12,5 miliar,” ujar Destry dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari, Rabu (21/1).


Menurut Destry, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara menjadi salah satu kunci untuk mengurangi eksposur risiko nilai tukar dolar AS. Ketergantungan berlebihan terhadap dolar dinilai dapat memperbesar tekanan pada stabilitas keuangan, terutama saat terjadi gejolak global.


“Penggunaan mata uang selain dolar AS ini menjadi strategi penting bagi kami. Tujuannya jelas, agar ketergantungan sistem keuangan terhadap dolar bisa terus dikurangi,” jelasnya.


Selain mendorong peningkatan volume LCT, BI juga aktif mengembangkan pasar non-dolar dengan membuka pasangan mata uang baru. Dalam satu bulan terakhir, bank sentral telah mengaktifkan perdagangan rupiah–yen Jepang dan rupiah–yuan China. Destry menyebut, tren transaksi di pasar non-dolar tersebut menunjukkan perkembangan yang positif. Selama ini, kebutuhan valuta asing tertentu, seperti yuan China, masih banyak dipenuhi melalui konversi dolar AS, yang dinilai kurang efisien.


“Banyak bank sebenarnya membutuhkan CNY atau RMB, tapi transaksinya masih lewat dolar AS. Ini yang kami coba potong jalurnya,” ujarnya.


Dengan membuka dan mengaktifkan pasar rupiah–CNY, BI berharap transaksi dapat dilakukan secara langsung tanpa perantara dolar. Langkah ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperdalam pasar keuangan domestik serta memperkuat peran rupiah di kancah internasional. Untuk mempercepat pendalaman pasar, BI bahkan terlibat langsung dalam aktivitas perdagangan mata uang non-dolar dalam beberapa waktu terakhir. Peran aktif bank sentral ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan kepercayaan pelaku pasar.


“Dalam satu bulan terakhir, Bank Indonesia sudah aktif melakukan perdagangan di dua mata uang tersebut,” kata Destry.


Ke depan, BI menargetkan kerja sama LCT dengan lebih banyak negara mitra serta peningkatan volume transaksi yang lebih merata. Strategi ini diyakini dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengurangi tekanan eksternal, dan memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Like this article? Show your appreciation by sending a tip to the author.
Reply 0

Leave Your Message Now

  • tradingContest