
Waktu pertama kali trading forex, saya pikir satu hal sederhana: market buka 24 jam, berarti saya bisa trading kapan saja. Pagi, siang, malam, bahkan tengah malam. Selama chart bergerak, berarti ada peluang.
Ternyata itu salah satu kesalahan paling melelahkan yang pernah saya buat.
Bukan cuma bikin hasil tidak konsisten, tapi juga bikin saya capek sendiri. Strategi yang kemarin jalan, hari ini tidak. Entry yang terasa rapi, tiba-tiba stuck berjam-jam. Dan anehnya, semua itu sering terjadi di jam-jam tertentu.
Saat itu saya belum paham apa itu jam sesi forex. Saya cuma tahu chart.
Market Forex Tidak Pernah Tutup, Tapi Tidak Pernah Sama
Baru setelah cukup lama, saya mulai sadar satu hal penting: walaupun forex buka 24 jam, orang-orang di dalam market tidak aktif bersamaan. Ada jam di mana bank besar aktif, ada jam di mana cuma trader ritel yang saling dorong harga. Ada jam yang pergerakannya rapi, ada jam yang terasa “kosong” tapi suka menjebak.
Di situlah saya mulai mengenal pembagian sesi: Asia, London, dan New York. Awalnya terdengar teoritis. Tapi setelah saya alami sendiri, perbedaannya sangat terasa.
Sesi Asia: Tenang di Luar, Menyebalkan di Dalam
Saya dulu sering trading di sesi Asia. Alasannya sederhana: waktunya nyaman. Tidak begadang, tidak ganggu aktivitas lain. Chart juga kelihatan tenang. Masalahnya, justru karena terlalu tenang, saya sering memaksakan entry. Market bergerak kecil, saya bosan, lalu mulai “mencari-cari” sinyal. Banyak trade kecil, tapi hasilnya tidak jelas.
Belakangan saya baru sadar, sesi Asia bukan jelek. Tapi tidak cocok untuk gaya trading saya waktu itu. Saya butuh pergerakan yang lebih jelas, bukan market yang setengah tidur.
Sesi London: Pertama Kali Trading Terasa Masuk Akal
Momen penting saya datang saat mulai fokus di sesi London. Bukan karena profit langsung naik, tapi karena market terasa hidup. Pergerakan harga lebih jelas. Breakout lebih masuk akal. Level teknikal lebih sering dihormati. Untuk pertama kalinya, saya merasa chart “bicara”, bukan sekadar bergerak.
Tapi di sini juga muncul jebakan baru: terlalu banyak peluang. Saya sempat overtrade, merasa semua setup layak diambil. Butuh waktu untuk belajar memilih.
Sesi New York: Antara Peluang dan Kelelahan
Sesi New York sering dianggap paling menarik, apalagi di awal saat overlap dengan London. Memang benar, peluang banyak. Tapi di sinilah saya sering bikin keputusan buruk. Bukan karena market-nya, tapi karena kondisi saya sendiri. Capek, fokus menurun, tapi tetap memaksakan entry. Beberapa loss terbesar saya justru terjadi di jam-jam ini.
Sejak itu saya mulai jujur: bukan semua sesi cocok untuk semua orang.
Jam Trading Lebih Penting dari yang Saya Kira
Ada fase di mana saya berhenti fokus ke strategi baru dan malah fokus ke jam trading. Saya batasi diri. Tidak trading di luar jam tertentu. Awalnya terasa seperti kehilangan peluang.
Tapi justru dari situ, hasil jadi lebih konsisten. Bukan karena saya jadi jago, tapi karena saya mengurangi keputusan buruk.
Sesi Forex Itu Soal Ritme, Bukan Jadwal
Sekarang, saya melihat jam sesi forex bukan sebagai jadwal teknis, tapi sebagai ritme. Ada jam di mana pikiran saya jernih dan market aktif. Ada jam di mana salah satu tidak sinkron.
Kalau ritmenya tidak ketemu, saya tidak memaksa. Market besok masih buka.
Penutup: Market 24 Jam, Tapi Trader Tidak
Kalau saya boleh kembali ke diri saya yang dulu, saya akan bilang satu hal: berhenti trading di semua jam.
Pilih satu sesi. Kenali. Rasakan. Dan terima kalau ada hari di mana tidak ada trade. Forex bukan tentang hadir terus, tapi tentang hadir di waktu yang tepat.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

-THE END-