
Memasuki awal tahun 2026, pasar valuta asing global diproyeksikan memasuki fase transisi penting. Perhatian pelaku pasar kini beralih dari tema inflasi dan pengetatan kebijakan menuju isu waktu pelonggaran, kedalaman penurunan suku bunga, serta perbedaan arah kebijakan antar bank sentral global. Pergeseran fase ini berpotensi meningkatkan volatilitas pasar valas, sekaligus membuka peluang perdagangan pada berbagai pasangan mata uang utama.
Dinamika EUR/USD: Peluang di Tengah Keterbatasan
EUR/USD menjadi salah satu pasangan yang menarik untuk dicermati di awal tahun mendatang. Dengan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, euro berpeluang menguat terhadap dolar AS. Namun, penguatan ini tetap akan dibatasi oleh pertumbuhan ekonomi kawasan Eropa yang relatif moderat.
Proyeksi EUR/USD menunjukkan rentang pergerakan di kisaran 1,15-1,19, dengan pendorong utama berupa penurunan suku bunga The Fed. Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi Eropa yang moderat menjadi faktor penghambat. Stabilisasi inflasi dan stimulus fiskal terbatas memberi dukungan bagi euro, dengan asumsi tidak ada guncangan geopolitik besar yang dapat mengubah arah pergerakan.
GBP/USD: Volatilitas dan Tantangan Domestik
Berbeda dengan euro, pound sterling diproyeksikan bergerak lebih volatil pada awal tahun mendatang. GBP/USD diperkirakan bergerak dalam rentang 1,32-1,38, dengan pendorong utama berupa pelemahan struktural dolar AS. Namun, perlambatan ekonomi Inggris menjadi faktor penghambat yang signifikan.
Pound sterling masih dibayangi oleh ekonomi domestik yang melambat dan sikap Bank of England yang lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga. Hal ini membuat pergerakan GBP/USD cenderung tidak sehalus euro, meskipun tetap berpeluang menguat jika dolar AS melemah secara struktural.
AUD/USD: Proksi Sentimen Risiko Global
Untuk kawasan Asia Pasifik, AUD/USD tetap menarik sebagai proksi sentimen risiko global dan komoditas. Mata uang Australia diproyeksikan bergerak dalam rentang 0,66-0,70, dengan pendorong utama berupa permintaan komoditas dan risk appetite global. Namun, perlambatan ekonomi Tiongkok menjadi faktor penghambat yang perlu diwaspadai.
Aussie dollar berpotensi mendapatkan dukungan dari stabilnya permintaan komoditas dan membaiknya risk appetite global. Pergerakan AUD/USD cenderung mengikuti dinamika pasar global ketimbang faktor domestik semata, menjadikannya barometer yang baik untuk sentimen risiko secara keseluruhan.
USD/JPY: Sensitivitas Terhadap Kebijakan BOJ
USD/JPY menjadi pasangan yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter. Dengan rentang pergerakan yang diproyeksikan di kisaran 150-160, normalisasi kebijakan Bank of Japan menjadi pendorong utama pergerakan yen. Namun, selisih suku bunga yang masih lebar dengan AS dan tekanan carry trade menjadi faktor penghambat penguatan yen.
Volatilitas tinggi diperkirakan terutama di sekitar pertemuan BOJ dan rilis data ekonomi AS. Normalisasi kebijakan BOJ secara bertahap berpotensi memperkuat yen, namun selisih suku bunga yang masih lebar dengan AS membuat yen rentan terhadap tekanan carry trade.
USD/CHF: Stabilitas di Tengah Ketidakpastian
Swiss franc tetap berfungsi sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global. USD/CHF diproyeksikan bergerak dalam rentang 0,75-0,80, dengan karakteristik franc sebagai aset safe haven. Sentimen risiko global dan tensi geopolitik menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan pasangan mata uang ini.
Dengan asumsi sentimen risiko relatif terjaga, USD/CHF diperkirakan bergerak stabil, dengan potensi penguatan franc jika ketegangan geopolitik meningkat. Karakteristik franc sebagai aset lindung nilai membuat pergerakannya cenderung berlawanan dengan sentimen risiko pasar secara keseluruhan.
USD/IDR: Pergerakan Terbatas dalam Jangka Pendek
Untuk pergerakan rupiah terhadap dolar AS dalam jangka pendek, USD/IDR diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp15.000-Rp15.300. Faktor global seperti data ekonomi AS dan sinyal kebijakan The Fed, serta faktor domestik seperti kebijakan Bank Indonesia, aliran modal, dan neraca perdagangan menjadi penentu utama pergerakan.
Rupiah berpeluang bergerak dalam rentang terbatas seiring belum adanya katalis besar. Data AS yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memberi tekanan pada rupiah, sementara data yang melemah dapat membuka ruang penguatan. Dari sisi domestik, perhatian pasar akan tertuju pada arah kebijakan Bank Indonesia, aliran modal asing, serta perkembangan neraca perdagangan dan harga komoditas.
Strategi Menghadapi Pasar Valas 2026
Secara keseluruhan, pasar valas di awal tahun 2026 diperkirakan memasuki fase transisi, bukan fase krisis maupun euforia. Volatilitas tetap ada, namun lebih didorong oleh perbedaan kebijakan dan ekspektasi suku bunga, bukan oleh kepanikan pasar. Beberapa strategi yang perlu diperhatikan dalam menghadapi pasar valas 2026:
Pasar valas memasuki fase transisi, bukan krisis maupun euforia
Perbedaan kebijakan dan ekspektasi suku bunga adalah faktor utama volatilitas
Tetap utamakan manajemen risiko
Seluruh proyeksi bersifat dinamis
Perhatikan rilis data ekonomi AS dan kebijakan bank sentral
Dinamika pasar valas 2026 membuka peluang sekaligus tantangan
Pelaku pasar diimbau untuk tetap mencermati manajemen risiko, karena seluruh proyeksi nilai tukar ini bersifat dinamis dan sangat bergantung pada perkembangan data dan sentimen global. Dengan memahami lanskap pasar valuta asing global di awal 2026, trader dapat mempersiapkan strategi yang lebih efektif dalam menghadapi volatilitas dan memanfaatkan peluang yang muncul.
Disclaimer: The views expressed are solely those of the author and do not represent the official position of Followme. Followme does not take responsibility for the accuracy, completeness, or reliability of the information provided and is not liable for any actions taken based on the content, unless explicitly stated in writing.

Leave Your Message Now