Note

Kenaikan Harga Solar Dampaknya Lebih Luas Dibandingkan Pertalite, Ini Saran Next Policy

· Views 7
Pengisian BBM solar di SPBU. (Foto: dok iNews)

JAKARTA, iNews.id - Direktur Eksekutif Next Policy, Fithra Faisal, menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar lebih berdampak luas dibandingkan pertalite. 

Menurut dia, kenaikan BBM bersubsidi memang tak terhindarkan. Namun untuk saat ini yang paling mungkin dinaikkan adalah Pertalite daripada solar. Pasalnya, jika harga solar dinaikkan maka dampaknya akan merembet ke sektor logistik dan transportasi bahkan menimbulkan multiplyer effect bagi sektor lainnya. 

"Kalau berbicara dampak inflasi, masih bergantung jenis BBM apa yang akan mengalami kenaikan harga. Jika pertalite yang dinaikan, dampak inflasi tidak akan terlalu besar pada sektor logistik dan transportasi. Tapi ketika solar dinaikan, efeknya akan kemana-mana, transportasi, pergudangan itu akan merembet ke mana-mana," ujar Fithra, dalam program Market Review di IDX Channel, Selasa (23/8/2022).

Terkait dengan itu, lanjutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan kembali rencana menaikkan harga solar. Jika terpaksa harus dinaikkan, maka sebaiknya tidak lebih dari 10 persen. Sedangkan untk pertalite dapat dinaikkan namun di bawah 20 persen.

"Saya rasa yang paling bisa dinaikan sekarang adalah pertalite, solar mungkin bisa dinaikan namun tidak akan sebesar pertalite, kenaikannya mungkin bisa dibawah 10 persen untuk solar," ungkap Fithra.

Dia mengungkapkan, berdasarkan kajian Next Policy, batas kenaikan harga BBM bersubsidi yang paling mungkin (feasible) dan tidak memicu inflasi tinggi adalah sebesar 20 persen.

"Kenaikannya mungkin bisa dibawah 20 persen antara 10 sampai 15 persen," kata Fithra.

Hal itu dilakukan agar dampak dari kenaikan BBM terhadap inflasi tidak terlalu tinggi, sebab Next Policy mencatat apabila kenaikan harga BBM dibawah 20 persen, maka inflasi yang ditimbulkan tidak lebih dari 1 persen.

"Itu akan menimbulkan efek inflasi yang sebenarnya tidak terlalu besar, di awah 1 persen," ungkap Fithra.

Disclaimer: The content above represents only the views of the author or guest. It does not represent any views or positions of FOLLOWME and does not mean that FOLLOWME agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the FOLLOWME community, the community does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

If you like, reward to support.
avatar

Hot

No comment on record. Start new comment.