Note

Pendekatan Ergo, Ego, dan Eco

· Views 20

DARI ungkapan “I hate Monday” sampai ”Thank God it’s Friday”, kita semua menyadari bahwa banyak sekali yang menganggap pekerjaan adalah suatu hal menyiksa.

Bahkan, banyak data menunjukkan, penderita penyakit-penyakit seperti jantung dan kolesterol kini berusia muda. Padahal, dahulu kita pikir penyakit-penyakit tersebut diidap oleh mereka yang berusia lanjut.

Hal itu memunculkan anggapan bahwa tingkat stres dalam bekerja menyumbang pada kenaikan angka tersebut.

Belum lagi, penyakit yang berhubungan dengan mobilitas, seperti sakit punggung, juga mendera mereka yang berusia muda.

Baca juga: Kepemimpinan Inklusif

Hal tersebut dikarenakan mereka terlalu banyak duduk dengan postur yang salah. Penyakit tersebut juga diderita oleh petugas-petugas bandara yang kerap mengangkat barang berat.

Tak hanya itu, sakit punggung umumnya juga terjadi karena gerakan-gerakan berulang. Contohnya sering terjadi pada seorang operator mesin yang tidak pernah dirotasi.

Banyak juga kita kenal orang yang terlalu berfokus pada pekerjaannya dan mengabaikan kesehatannya sendiri. Sementara, perusahaan tidak menaruh peduli ketika sang karyawan tidak lagi dapat bekerja dengan produktif bagi perusahaan.

Apakah dengan demikian, berhenti bekerja menjadi solusinya? Padahal, bisa jadi kita menikmati tantangan yang ada dalam pekerjaan kita.

Baca juga: Menerapkan Mindfulness di Tempat Kerja

Kita pun belum tentu bisa mendapatkan tempat kerja yang lebih baik di tempat lain. Sementara, tuntutan kebutuhan hidup pasti tidak bisa diabaikan.

Di sisi lain, perusahaan pun akan mengalami kerugian bila kehilangan talenta-talenta terbaiknya yang mengundurkan diri karena kondisi kesehatannya yang memburuk.

Di sinilah konsep ergonomi harus menjadi pertimbangan penting di lingkungan kerja. Sayangnya, tidak semua pimpinan perusahaan ataupun karyawan menyadari pentingnya kenyamanan dan keamanan kerja ini.

Ergonomi terkait pada semua aspek dalam pekerjaan yang berhubungan dengan stres yang menekan, baik fisik maupun mental manusia.

Tekanan-tekanan itu bisa berimbas pada persendian, otot, syaraf, tulang, ataupun pendengaran dan kenyamanan kesehatan yang lebih umum.

Baca juga: Bahasa Suportif

Ilmu pengetahuan sudah meyakinkan kita bahwa solusi kreatif datang dari pemikiran yang relaks dan tubuh yang juga tidak tertekan atau kesakitan.

Ahli Zen Natalie Goldberg, mengatakan “Creativity exists in the present moment. You can’t find it anywhere else”.

Bukankah kita juga menyadari bahwa ide-ide cemerlang sering muncul pada saat berenang, bersepeda, ataupun ketika mandi di bawah pancuran air? Jadi, bila pikiran dibiarkan bebas, kita seolah bisa menemukan bola lampu lain.

Pelawak Fannie Flagg mengatakan: “If you cage a wild thing, you can be sure it will die, but if you let it run free, nine times out of ten it will run back home”.

Baca juga: Tebar Pengaruh

Penelitian neuroscience mengatakan bahwa cairan kreatif mengalir bila pikiran dan tubuh santai, terbuka, dan jernih. Kondisi ini bisa kita dapatkan juga dengan cara-cara sederhana untuk microbreak, seperti mengatur ulang perabot, jalan di sekitar halaman, atau mengobrol santai dengan orang lain yang dapat membuat pikiran menjadi lebih jernih.

Ergo, ego, dan eco

Sudah bukan zamannya, pemberi kerja merasa lebih berkuasa terhadap para karyawannya ataupun perusahaan yang mementingkan keuntungan di atas kepentingan manusia yang bekerja padanya.

Pendekatan Ergo, Ego, dan EcoDok. EXPERD Eileen Rachman
Perusahaan semacam itu tidak akan bertahan lama, apalagi dengan masuknya pekerja milenial yang mempunyai idealisme berbeda.

Dengan banyaknya pilihan cara kerja, tempat kerja, dan pasar kerja, kita memang perlu berpikir keras tentang wadah seperti apa yang hendak kita sediakan bagi para karyawan bila ingin membangun hubungan harmonis di antara karyawan.

Baca juga: Kontrol Kinerja

Seperti apa lingkungan yang ergonomis itu?

Kondisi pandemi yang kita alami kemarin telah membuka mata bahwa bentuk kantor tidak harus berupa kubikel-kubikel berisi orang yang sibuk menghadap komputernya masing-masing.

Bekerja bisa dari mana dan kapan saja. Hal ini membuat banyak individu sadar bahwa bekerja tidak berarti menghilangkan unsur kemanusiaan yang kita miliki.

They want to be embraced in their entire humanity. Tantangan kantor saat ini adalah menyediakan ruang, wadah tempat “ego” bisa bekerja secara utuh.

Baca juga: Batu Sandungan Pengembangan Pribadi

Kita sudah tidak berbicara tentang ruangan yang dihiasi tanaman dengan lukisan cantik, tetapi suatu kesempatan bekerja yang lebih memperhatikan kesehatan jiwa dan raga pekerja.

Seperti apa pendekatan human-centered itu?

Banyak benturan yang terjadi tidak selalu antara manajemen dengan pekerja, tetapi bisa saja antara sesama karyawan. Ada politik kantor, perlombaan mencari muka atasan, dan upaya karyawan untuk menghindari risiko.

Pernah lihat juga kan bahwa diskusi-diskusi tentang pekerjaan bisa saja berubah menjadi penyebaran gosip yang tidak bermutu?

Penelitian meyakinkan kita bahwa emosi adalah unsur paling penting dalam nilai-nilai yang dijunjung tinggi seseorang.

Bila kita merasa dihargai, rasa aman akan meningkat, dan semakin berkurang keinginan untuk mengutamakan hal-hal yang berfokus pada ego masing-masing. Karenanya, self interest akan berkurang.

Baca juga: Organisasi yang People-centric

Dengan meningkatnya kebutuhan kita akan individu yang berpikir kritis, taktis, dan inovatif, maka perhatian ke setiap ego harus menjadi prioritas. Semakin ego tercukupi, maka dia semakin kreatif dan inovatif.

Seperti apa pendekatan ekonomis itu?

Siapa yang menyangkal bahwa produktivitas adalah hal terpenting dalam kinerja perusahaan?
Bila disuruh memilih mana yang lebih penting antara produktivitas atau kesejahteraan manusia, banyak orang, terutama manajemen, akan memilih produktivitas.

Akan tetapi, apakah produktivitas bisa tercapai melalui cara yang sama seperti ketika teknologi baru mulai dikenal beberapa dekade lalu?

Baca juga: Kelak-kelok Karier

Paradigma kerja baru sebagai respons terhadap krisis dan disrupsi menuntut perubahan, baik pada model mental maupun sistem-sistem yang sudah usang.

Manusia tidak lagi tergantung sistem, kaku terhadap jalannya prosedur, tidak bersikap kritis terhadap situasi kerja. Bila sikap ini dipelihara, produktivitas pasti terganggu.

Keluasan dan kedalaman transformasi yang kita lakukan bukan sekadar menentukan bekerja dari rumah (WFH) atau hybrid, tetapi kepada perilaku yang lebih altruis, yakni berpikir ke depan agar dapat mencapai aspirasi baru yang lebih maju.

Sikap ‘design thinking’ harus tertanam menyeluruh dalam benak setiap karyawan.
Dengan begitu, keuntungan baru dapat tercapai ketika organisasi mengintegrasikan antara produktivitas dengan kemanusiaan.

 

Disclaimer: The content above represents only the views of the author or guest. It does not represent any views or positions of FOLLOWME and does not mean that FOLLOWME agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the FOLLOWME community, the community does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

If you like, reward to support.
avatar

Hot

No comment on record. Start new comment.