Note

Amerika Siap Rilis Cadangan, Harga Minyak Mengalami Kenaikan

· View 302


Amerika Siap Rilis Cadangan, Harga Minyak Mengalami Kenaikan


Harga minyak mengalami kenaikan tipis setelah sempat turun ke bawah US$80 per barel lantaran beberapa negara konsumen utama bersiap merilis cadangan minyak daruratnya.


Meski demikian, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberikan dukungan pada pasar minyak dan membatasi penurunan harga lebih lanjut.


Pada perdagangan Rabu (24/11/2021) siang sesi Asia, harga minyak mentah di West Texas Intermediate (WTI) naik tipis 0,30 poin atau 0,38% ke US$78,0 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent naik 0,18 poin atau 0,22% ke US$82,49 per barel.


Berdasarkan data American Petroleum Institute (API), persediaan minyak mentah AS dalam sepekan naik sebesar 2,31 juta barel untuk pekan yang berakhir 19 November. Stok bensin juga dilaporkan naik sebesar 2,25 juta barel.


“Data dari API tersebut mengindikasikan permintaan pasar di AS yang sedang lesu. Sementara untuk angka resmi versi pemerintah baru akan dirilis malam nanti oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration [EIA],” tulis tim riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) dalam riset, Rabu (24/11/2021).


Namun, ada faktor yang membebani pergerakan harga minyak, yakni setelah pihak Gedung Putih pada Selasa (23/11/2021) mengumumkan bahwa AS akan merilis 50 juta barel minyak dari cadangan strategis negara dengan harapan dapat menurunkan harga bensin yang telah melonjak ke level tertinggi dalam 7 tahun.


Departemen Energi AS berencana merilis 50 juta barel minyak tersebut dalam dua bagian yaitu 32 juta barel dalam beberapa bulan ke depan dan 18 barel sisanya sebagai bagian dari penjualan minyak yang sebelumnya telah disetujui Kongres.


Pihak Gedung Putih juga menambahkan bahwa aksi itu akan dilakukan secara paralel dengan negara-negara konsumen energi utama lainnya termasuk China, India, Jepang, Korea Selatan dan Inggris.


Menyusul pengumuman dari AS, India pada hari Selasa juga mengumumkan akan merilis sekitar 5 juta barel minyak dari cadangan daruratnya dalam 7-10 hari kedepan. Korea Selatan dan Jepang pada Rabu pagi juga mengumumkan hal serupa, di mana masing-masing akan merilis sekitar 3,8 juta barel dan 4,2 juta barel dari cadangan daruratnya.


Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah justru memberikan dukungan pada harga minyak setelah Koalisi pimpinan Saudi mengatakan bahwa pihaknya akan meluncurkan serangan udara yang menargetkan situs-situs militer di ibukota Yaman Sanaa. Hal ini membuat warga sipil dihimbau untuk tidak berkumpul atau mendekati daerah yang ditargetkan.


“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak akan berada dalam kisaran resistance di US$79,90 US$8130 per barel serta kisaran support di US$77,10-US$75,59 per barel,” kata tim riset ICDX.


Sumber: Bisniscom

Hak cipta isi berita dimiliki oleh pemilik asli

Disclaimer: The content above represents only the views of the author or guest. It does not represent any views or positions of FOLLOWME and does not mean that FOLLOWME agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the FOLLOWME community, the community does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

If you like, reward to support.
avatar

Hot

analisa teknikal dari tim riset ICDX sangat membantu, thanks

-THE END-